Rabu, 30 November 2016

Indah di Mata Allah



              Semua manusia memang terlahir secara suci dan beragama Islam dalam bentuk fisik yang berbeda-beda. Berkulit putih, berkulit sawo matang, bahkan berkulit hitam adalah kuasa Allah swt. yang harus kita syukuri dan kita jaga. Tubuh yang tinggi atau pendek, gendut atau kurus, berambut lurus atau keriting, memang hal yang biasa. Memang terkadang kita merasa lebih kurang dibandingkan dengan yang lain.

              Memang kita selalu melihat keatas, melihat kelebihan orang lain, merasa orang lain lebih baik, dan kita bukan apa-apa. Tapi itu salah. Salah besar. Allah menciptakan manusia dengan fisik yang berbeda-beda agar manusia bisa bersyukur dan tidak menjadikan fisik sebagai acuan jika ia terpandang di mata Allah atau tidak. Cukuplah menjadi manusia yang jujur dan ikhlas dalam menjalani hidup. Allah menilai seseorang bukan dari sisi luar, tapi dari ketaqwaan umatnya selama menjalani hidup.



             Untuk apa memiliki fisik yang sempurna, namun tidak mematuhi aturan Allah? Allah adalah juri dari kehidupan di alam raya. Dan beribadah adalah hal yang diperlombakan. Siapa menang, akan masuk surga Allah. Sebagai kontestan, kita harus mempersiapkan semuanya selama hidup dan tidak menunda-nunda.

Semoga postingan ini bermanfaat. Dan kita menjadi lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki.
Aamiin..

-AFS- 

sumber : OA SKI SMAN 2 SURABAYA (line : @izy9863u )


 

Sabtu, 12 November 2016

JANGAN JADI MUSLIM YANG BODOH!



Tidak ada sikap yang lebih mulia bagi hamba Allah yang bertauhid, kecuali selalu bertakwa di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi bagaimana pun. Insya Allah. Tidak ada seorang pun dari kita yang rela disebut orang bodoh, karena istilah ini menjadikan seseorangrendah dan hina.
Jauh-jauh waktu baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi solusi agar kita terhindar dari kebodohan dengan cara atau menuntut ilmu. Bahkan, hal ini diwajibkan bagi setiap orang yang mengaku beragama Islam. Dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang disahihkan oleh Al-Imam Al-Albani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib dilakukan oleh setiap muslim.”
Jelas, masing-masing kita yang memeluk agama Islam, lelaki atau pun perempuan, wajib untuk menuntut dan mempelajari ilmu. Dan sesuatu yang disebut wajib oleh syariat, jika ditinggalkan maka pelakunya akan diazab dan jika dikerjakan pelakunya akan diberi pahala.
Tapi pertanyaannya, mana ilmu yang wajib untuk kita pelajari? Apa ilmu yang akan mendatangkan pahala dan balasan baik untuk kita?
Para ulama ahlus sunnah wal jama’ah dari generasi sahabat nabi sampai abad ini sepakat bahwa yang dimaksud dengan ilmu dalam hadits mulia yang telah disebut di atas adalah ilmu agama. Yakni, ilmu syar’i, ilmu yang berlandaskan segala firman Allah, sabda Rasulullah dan ucapan-ucapan para sahabat nabi serta ulama-ulama yang mengikuti pemahaman mereka. Inilah ilmu yang sebenarnya yang wajib dipelajari oleh setiap muslim dan muslimah.
Karena itu, jika seorang muslim atau muslimah tidak peduli terhadap ilmu agamanya atau bahkan ia bersikap apatis terhadapnya, ia terancam dengan dosa, murka dan siksa Allah ‘azza wa jalla. Keutamaan ilmu syar’i dan para pelajarnya sangat banyak disebutkan dalam Al Qur-an dan Al Hadits.
Ilmu agama yang harus kita pelajari terbagi menjadi dua sisi. Pertama, ilmu agar kita bisa mengenal Allah dan beribadah kepadaNya dengan benar. Kedua, ilmu agar kita tidak salah langkah dalam urusan dunia di keseharian kita.
Siapa saja yang tidak mengindahkan ilmu agama Islam, maka ia akan terseret ke dalam banyak kejelekan dan kerusakan, di dunia atau pun kelak di akhirat. Di dunia, berapa banyak orang yang jatuh dalam kekufuran, kesyirikan, perdukunan, ramalan zodiak, hipnotis, pelet, jimat, mantra-mantra, kemurtadan, kebidahan, sikap fanatik yang tidak syar’i, hizbiyyah dan lain sebagainya.
Berapa banyak laki-laki muslim yang jatuh dalam dosa dan maksiat, berpakaian tapi telanjang, lalai shalat berjamaah di masjid, memakan harta riba, berzina, dan lain sebagainya. Berapa banyak wanita muslimah yang jatuh dalam kubangan noda dosa, memamerkan aurat, berpacaran, tabarruj dandanan jahiliyyah, rela dijadikan komoditas, bepergian tanpa mahram, sembarangan keluar rumah, dan lain sebagainya.
Adapun di akhirat, orang-orang yang apatis dengan ilmu agama Islam akan merasakan kengerian suasana neraka dan dahsyatnya azab Allah yang sebelumnya ia merasakan ketidaknyamanan tinggal di alam barzakh. Ini semua terjadi disebabkan oleh kebodohan mereka tentang ilmu agama Allah. Ilmu agamalah yang akan menyelamatkan kita dari segala kejelekan dan kebinasaan. Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan (semoga Allah senantiasa menjaganya) pernah mengatakan, “Paham akan ilmu agama adalah tameng pelindung dari segala macam fitnah dan ujian.”
Orang bodoh nan jahil akan sulit menemukan jalan menuju Surga, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Abu Dawud dan yang lainnya, “Siapa saja yang menempuh satu jalan dalam rangka menuntut ilmu agama, niscaya Allah akan memudahkan untuknya jalan menuju Surga karena amalannya itu.”
Orang bodoh nan jahil akan sulit untuk merasa takut kepada Allah, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28)
Orang bodoh nan jahil tidak mungkin mendapatkan keutamaan, kebaikan dan manfaat seperti yang didapat oleh orang yang berilmu, karena Allah telah menyatakan,
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ
“Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tak berilmu?” (QS. Az Zumar: 9)
Orang bodoh nan jahil akan terjauh dari berbagai macam kebaikan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan, “Siapa saja yang Allah kehendaki mendapat kebaikan, maka Allah akan memahamkannya terhadap urusan agama.”
Tidak ada keberuntungan bagi orang yang bodoh nan jahil, tidak ada keberhasilan bagi orang yang bodoh akan ilmu syar’i, tidak ada kesuksesan bagi orang yang tidak tahu ilmu agama Allah, dan tidak ada laba yang bernilai bagi orang yang tak mengerti tentang ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Abbas pernah memberikan nasihat emas kepada kaum muslimin di zamannya. Kata beliau, “Jadilah kalian orang-orang rabbani, halim dan faqih.”
Rabbani adalah orang yang mampu mendidik manusia dari yang asalnya bodoh menjadi berilmu. Halim adalah orang yang memiliki ketenangan dan kesabaran dalam segala hal. Faqih adalah orang yang paham, tahu dan mengerti akan ilmu-ilmu agama Allah.
Sungguh, ini adalah nasihat berharga, sebuah kalimat singkat namun sarat makna. Semoga Allah memberikan balasan baik yang berlimpah kepada penyampainya. Ilmu sangat diperlukan oleh setiap orang sebelum berbicara atau pun berbuat, karena jika suatu ucapan atau amalan tidak dilandasi ilmu, maka kegagalan dan kehancuranlah yang akan muncul.
Imam Bukhari pernah menyebutkan, “Harus ada ilmu sebelum berucap dan berbuat.” Pernyataan indah ini semakna dengan firman Allah,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Maka, berilmulah bahwa ‘laa ilaaha illallah’ [Tidak sembahan yang berhak disembah selain Allah]. Lalu, mintalah ampunan kepada Allah untuk dosamu, untuk kaum mukminin dan mukminat.” (QS. Muhammad: 19)
Sangat jelas, Allah terlebih dahulu memerintahkan hambanya untuk berilmu sebelum ber-istighfar memohon ampunan kepadaNya, dan kita ketahui bahwa istighfar dilakukan dengan ucapan dan perbuatan.
Kaum muslimin yang semoga senantiasa dilindungi oleh Allah.
Seorang muslim yang pandai dan berakal sehat akan selalu sadar bahwa dirinya membutuhkan ilmu dalam segala aspek kehidupan dan aktivitas kesehariannya. Apalagi, ia tahu bahwa tujuan hidup di dunia fana ini adalah ibadah kepada Allah dengan benar dan ia pun mengerti bahwa agama Islam yang dicintai dan diagungkannya tidak akan pernah terealisasikan, kecuali dengan dua hal yang sangat penting. Pertama, tidak boleh ada yang diibadahi dengan benar kecuali Allah saja. Kedua, peribadatan kepada Allah akan terwujud dengan benar jika dilakukan sesuai syariat yang telah diatur dan ditetapkan olehNya.
Dua hal yang sangat penting tersebut adalah esensi tauhid, yaitu “asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.” Dan seorang hamba Allah tidak bisa mewujudkan esensi tauhid jika ia bodoh tentang ilmu agama.
Hakikat tauhid bisa direalisasikan jika dua poin penting itu terpenuhi: dengan melakukan ibadah yang telah disyariatkan oleh Allah. Dan bagaimana mungkin bisa seorang muslim bisa mengerjakan ibadah yang telah disyariatkan oleh Rabbnya dalam keadaan ia tak berilmu?
Semoga Allah memberi semangat kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk mau tafaqquh fid diin (paham akan urusan agama) dan semoga Allah menjauhkan kita dari segala bentuk kebodohan yang akan menghinakan kita di dunia atau pun akhirat. Allahumma amin.
Wallahu a’lam walhamdulillahi Rabbil’alamin.
Sumber:
Buletin Jum’at Dakwah Islam, nomor 55, tahun ke-2, 16  Jumadil Akhir 1437 H/25 Maret  2016 M
http://dakwahislam.net/jangan-mau-jadi-muslim-yang-bodoh/